Kamis, 08 Desember 2011

Last Child - Seluruh Nafas Ini

lihatlah luka ini yang sakitnya abadi
yang terbalut hangatnya bekas pelukmu
aku tak akan lupa, tak akan pernah bisa
tentang apa yang harus memisahkan kita


saat ku tertatih tanpa kau di sini
kau tetap ku nanti demi keyakinan ini
jika memang dirimulah tulang rusukku
kau akan kembali pada tubuh ini
ku akan tua dan mati dalam pelukmu
untukmu seluruh nafas ini

kita telah lewati rasa yang telah mati
bukan hal baru bila kau tinggalkan aku
tanpa kita mencari jalan untuk kembali
takdir cinta yang menuntunmu kembali padaku

di saatku tertatih (saat ku tertatih)
tanpa kau di sini (tanpa kau di sini)
kau tetap ku nanti demi keyakinan ini

jika memang kau terlahir hanya untukku
bawalah hatiku dan lekas kembali
ku nikmati rindu yang datang membunuhku
untukmu seluruh nafas ini

dan ini yang terakhir aku menyakitimu
ini yang terakhir aku meninggalkanmu
takkan ku sia-siakan hidupmu lagi

ini yang terakhir dan ini yang terakhir
takkan ku sia-siakan hidupmu lagi

jika memang dirimulah tulang rusukku (terlahir untukku)
kau akan kembali pada tubuh ini (bawa hatiku kembali)
ku akan tua dan mati dalam pelukmu
untukmu seluruh nafas ini

jika memang kau terlahir hanya untukku
bawalah hatiku dan lekas kembali
ku nikmati rindu yang datang membunuhku
untukmu seluruh nafas ini, untukmu seluruh nafas ini
untukmu seluruh nafas ini

Fakta Unik Wanita Tentang Pria Baik

Meski di sekitar wanita ada pria baik-baik yang berpeluang dijadikan sebagai pasangan, kaum hawa kerap terjatuh dalam pelukan pria biasa dengan perilaku yang sulit diprediksi.
Ada beberapa alasan wanita untuk lebih memilih si bandel daripada seorang pria baik-baik sebagai pasangan, seperti dimuat dalam The Stir.

1. Sulit percaya ada pria baik
Bagi sebagian wanita, sulit rasanya memercayai ada seorang pria yang benar-benar tulus mencintai. Semakin seorang pria terlihat dapat dipercaya, wanita kerap merasa yang terjadi adalah hal sebaliknya. Alasannya, karena seringnya mereka bertemu pria yang berperilaku buruk, wanita lebih cenderung mengeneralisasi semua pria.

Bila demikian, perlu waktu lebih lama bagi pria untuk meyakinkan wanita bahwa mereka adalah orang yang benar-benar bisa dipercaya.

2. Pria Biasa terlihat peduli
Para pria jenis ini sangat mengerti bagaimana agar terlihat seperti memberi banyak perhatian kepada wanita dalam sebuah hubungan romantisisme. Padahal, sesungguhnya, mereka hanya memperhatikan diri sendiri.

Sementara, para pria baik-baik akan menunggu sebelum mengungkapkan keinginannya berkencan, pria bandel akan langsung mengatakan keinginan dengan cepat. Ini tentu agar satu-satunya keinginannya terpenuhi.

3. Pria baik punya kelemahan, pria nakal menawarkan tantangan
Para pria dengan niat untuk berhubungan serius mengungkap kelebihan dan kelemahannya, sedangkan tidak dengan pada biasa. Saat pria baik-baik memiliki pekerjaan tetap dan memiliki tabungan, si bandel menyajikan sebuah tantangan. Sebagian wanita lebih menyukai tantangan.

4. Wanita takut keintiman
Satu hal yang tak diinginkan para pria bandel adalah menjalin keintiman yang lebih intens dengan pasangan. Jika wanita siap untuk menanyakan komitmen, si pria bandel hanya akan menganggap komitmen dan pernikahan sebuah ilusi.

5. Wanita tak merasa percaya diri sendiri
Wanita yang merasa tak percaya diri sendiri sulit menangani pria yang memiliki perilaku baik dan dapat memperlakukan mereka dengan baik. Sementara, si bandel memperlakukan wanita dengan cara yang sama: sebuah perlakuan buruk.

SUMBER : LIHAT BERITA

Kamis, 17 November 2011

Love is Memories

   Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

" Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy! "


Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus. 



SUMBER : INDOGOO FORUM

Jumat, 11 November 2011

Kamis, 03 November 2011

(renungan) berapa lama kita dikubur??

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet.

Baju merahnya yg Kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram Ikatan sabuk celana ayahnya.

Yani dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan & kemudian duduk Di atas seonggok nisan "Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1915:20- 01-1965"

"Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo'a untuk nenekmu" Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yg mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo'a untuk Neneknya...


"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah." Ayahnya mengangguk sembari tersenyum, sembari memandang pusara Ibu-nya.

"Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya Yah..." Kata Yani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung. "Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42 tahun ... "

Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana . Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut "Muhammad Zaini: 19-02-1882 : 30-01-1910"

"Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang lalu ya Yah", jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya. "Memangnya kenapa ndhuk ?" kata sang ayah menatap teduh mata anaknya. "Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa dineraka" kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?"

Ayahnya tersenyum, "Lalu?"

"Iya .. Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang dikubur .... Ya nggak yah?" mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada Ayahnya pendapatnya.

Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas ..... "Iya nak, kamu pintar," kata ayahnya pendek.

Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah Di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya... 42 tahun hingga sekarang... kalau kiamat datang 100 tahun lagi...142 tahun disiksa .. atau bahagia dikubur .... Lalu Ia menunduk ... Meneteskan air mata...

Kalau Ia meninggal .. Lalu banyak dosanya ...lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti Ia akan disiksa 1000 tahun?

Innalillaahi WA inna ilaihi rooji'un .... Air matanya semakin banyak menetes, sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan, kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi?

Tahankah? padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan?

Ya Allah... Ia semakin menunduk, tangannya terangkat, keatas bahunya naik turun tak teratur.... air matanya semakin membanjiri jenggotnya.

Allahumma as aluka khusnul khootimah.. berulang Kali di bacanya DOA itu hingga suaranya serak ... Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani.

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan Bambu. Di betulkannya selimutnya. Yani terus tertidur.... tanpa tahu, betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan... Dan apa yang akan datang di depannya...

"Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan dihatiku..."


Sebarkan e-mail ini ke saudara-saudara Kita, mudah-mudahan bermanfaat..


Dikutip Dari: http://jumatmalam.multiply.com/journal/item/204/Kisah_si_Yani_kecil_bersama_ayahnya_renungan

Menjual Keperawanan...

Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima . Sang
> petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan
> pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah
> langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang
> agak di pojok.
>
> Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus
> dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya
> tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak
> ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah
> seseorang yang sedang ditunggunya. Petugas satpam itu mulai berpikir
> bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di
> hotel ini. Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang
> anak-anak. Sekitar usia remaja yang t engah beranjak dewasa.
>
> Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati
> meja wanita itu dan bertanya:
> '' Maaf, nona ... Apakah anda sedang menunggu seseorang? "
> '' Tidak! '' Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat
> lain.
> '' Lantas untuk apa anda duduk di sini?"
> '' Apakah tidak boleh? '' Wanita itu mulai memandang ke arah sang
> petugas satpam..
> '' Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang
> yang ingin menikmati layanan kami.''
> '' Maksud, bapak? "
> '' Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini ''
> '' Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang,
> izinkanlah saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual '' Kata
> wanita itu dengan suara lambat.
> '' Jual? Apakah anda menjual sesuatu di sini? '' Petugas satpam itu
> memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual.
> Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.
> '' Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk
> berjualan. Mohon mengerti. ''
> '' Saya ingin menjual diri saya, '' Kata wanita itu dengan tegas sambil
> menatap dalam-dalam kearah petugas satpam itu.
> Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan. ''
> Mari ikut saya, '' Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan
> tangannya.
> Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil
> senyum di wajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah
> mengikuti petugas satpam itu.
> Di koridor hotel itu terdapat kursi yang hanya untuk satu orang. Di
> sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi
> pengunjung
> yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini.
> Di tempat inilah deal berlangsung.
> '' Apakah anda serius? ''
> '' Saya serius '' Jawab wanita itu tegas.
> '' Berapa tarif yang anda minta? ''
> '' Setinggi-tingginya. .' '
> '' Mengapa?" Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.
> '' Saya masih perawan ''
> '' Perawan? '' Sekarang petugas satpam itu benar-benar terperanjat. Tapi
> wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari
> ini, pikirnya
> '' Bagaimana saya tahu anda masih perawan?''
> '' Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan
> mana bukan.. Ya kan ..''
> '' Kalau tidak terbukti? "
> '' Tidak usah bayar ...''
> '' Baiklah ...'' Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke
> kiri dan ke kanan.
> '' Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli
> keperawanan anda. ''
> '' Cobalah. ''
> '' Berapa tarif yang diminta? ''
> '' Setinggi-tingginya. ''
> '' Berapa? ''
> '' Setinggi-tingginya. Saya tidak tahu berapa? ''
> '' Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar
> ya.''
>
> Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu. Tak berapa lama
> kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah.
> '' Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana?
> ''
> '' Tidak adakah yang lebih tinggi? ''
> '' Ini termasuk yang tertinggi, '' Petugas satpam itu mencoba
> meyakinkan.
> '' Saya ingin yang lebih tinggi...''
> '' Baiklah. Tunggu disini ...'' Petugas satpam itu berlalu. Tak berapa
> lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.
> '' Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana?
> ''
> '' Tidak adakah yang lebih tinggi? ''
> '' Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila
> anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau
> andai perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan
> mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan
> menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya
> anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda
> juga telah berbuat baik terhadap saya. Karena saya akan mendapatkan
> komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan.. Kita sama-sama butuh
> ... ''
> '' Saya ingin tawaran tertinggi ... '' Jawab wanita itu, tanpa peduli
> dengan celoteh petugas satpam itu.
> Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat.
> '' Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya anda ikut
> saya. Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit.
> Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli. '' Kata
> petugas satpam itu dengan agak kesal.
> Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap
> mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift.
>
> Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak
> berumur tersenyum menatap mereka berdua.
> '' Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat? " Kata petugas
> satpam itu dengan sopan.
> Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama ke sekujur tubuh wanita
> itu ..
> '' Berapa? '' Tanya pria itu kepada Wanita itu.
> '' Setinggi-tingginya '' Jawab wanita itu dengan tegas.
> '' Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang? '' Kata pria itu
> kepada sang petugas satpam.
> '' Rp.. 6 juta, tuan ''
> '' Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam. ''
> Wanita itu terdiam.
> Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban
> bagus dari wanita itu.
> '' Bagaimana? '' tanya pria itu.
> ''Saya ingin lebih tinggi lagi ...'' Kata wanita itu.
> Petugas satpam itu tersenyum kecut.
> '' Bawa pergi wanita ini. '' Kata pria itu kepada petugas satpam sambil
> menutup pintu kamar dengan keras.
> '' Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin
> menjual? ''
> '' Tentu! ''
> '' Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu ... ''
> '' Saya minta yang lebih tinggi lagi ...''
>
> Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun
> tak ingin kesempatan ini hilang.
> Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.
> '' Kalau begitu, kamu tunggu di tempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba
> mencari penawar yang lainnya. ''
> Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria
> yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita
> melaluinya.
> Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu
> jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat
> telepon genggamnya.
> '' Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Rupiah. Apakah
> itu tidak cukup? " Terdengar suara pria itu berbicara. Wajah pria itu
> nampak masam seketika
> '' Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu. Kan sudah seminggu
> lebih kita engga ketemu, ya sayang?! ''
>
> Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan
> wanita. Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan
> di wajah pria itu. Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria
> itu:
> '' Pak, apakah anda butuh wanita ... ??? ''
> Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan
> wajahnya.
> '' Ada wanita yang duduk disana, '' Petugas satpam itu menujuk kearah
> wanita tadi.
> Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini.
> "Dia masih perawan...''
> Pria itu mendekati petugas satpam itu.
> Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. '' Benarkah itu? ''
> '' Benar, pak. ''
> '' Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu ... ''
> '' Dengan senang hati. Tapi, pak ...Wanita itu minta harga setinggi
> tingginya.''
> '' Saya tidak peduli ... '' Pria itu menjawab dengan tegas.
> Pria itu menyalami hangat wanita itu.
> '' Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang
> seriuslah ....'' Kata petugas satpam itu dengan nada kesal.
> '' Mari kita bicara di kamar saja.'' Kata pria itu sambil menyisipkan
> uang kepada petugas satpam itu.
> Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.
> Di dalam kamar ...
> '' Beritahu berapa harga yang kamu minta? ''
> '' Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit ''
> '' Maksud kamu? ''
> '' Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk
> kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterima kasih .... ''
> '' Hanya itu ...''
> '' Ya ...! ''
>
> Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk
> menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula
> menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung
> gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini
> sadar, bahwa di hadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai.
> Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan
> untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanta ini tidak melawan
> gelombang laut melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada
> kepasrahan diatas keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan
> selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara
> terhormat.
> '' Siapa nama kamu? ''
> '' Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar ... ''
> Kata wanita itu
> '' Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang
> pantas ditawar. ''
> ''Kalau begitu, tidak ada kesepakatan! ''
> '' Ada ! " Kata pria itu seketika.
> '' Sebutkan! ''
> '' Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu.
> Terimalah uang ini.
> Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu ke rumah sakit. Dan
> sekarang pulanglah ... '' Kata pria itu sambil menyerahkan uang dari
> dalam tas kerjanya.
> '' Saya tidak mengerti ...''
> '' Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya. Dia menikmati
> semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterima kasih. Selalu
> memeras.. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta. Tapi
> hari ini, saya bisa membeli rasa terima kasih dari seorang wanita yang
> gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya. Ini suatu kehormatan
> yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar ...''
> '' Dan, apakah bapak ikhlas...? ''
> '' Apakah uang itu kurang? ''
> '' Lebih dari cukup, pak ... ''
> '' Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal? ''
> '' Silahkan ...''
> '' Mengapa kamu begitu beraninya ... ''
> '' Siapa bilang saya berani. Saya takut pak ...
> Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa
> ibu saya ke rumah sakit dan semuanya gagal. Ketika saya mengambil
> keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu bukanlah karena
> dorongan nafsu. Bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh` ... Saya
> hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan .... ''
> '' Keyakinan apa? ''
> '' Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Tuhan lah
> yang akan menjaga kehormatan kita ... '' Wanita itu kemudian melangkah
> keluar kamar.
> Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata:
> '' Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini ... ''
> '' Kesadaran... '' . . ..
> Di sebuah rumah di pemukiman kumuh. Seorang ibu yang sedang terbaring
> sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.
> '' Kamu sudah pulang, nak ''
> '' Ya, bu ... ''
> '' Kemana saja kamu, nak ... ???''
> '' Menjual sesuatu, bu ... ''
> '' Apa yang kamu jual?'' Ibu itu menampakkan wajah keheranan. Tapi
> wanita muda itu hanya tersenyum ...
> Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah
> kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada lagi
> yang gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah
> keseharian yang tak bisa dielakan. Tapi Tuhan selalu memberi tanpa
> pamrih, tanpa perhitungan ...
> '' Kini saatnya ibu untuk berobat ... ''
>
> Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata: '' Tuhan telah
> membeli yang saya jual... ''.
> Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan
> rumahnya.
> Dimasukannya ibunya ke dalam taksi dengan hati-hati dan berkata kepada
> supir taksi: '' Antar kami kerumah sakit ...''

Diambil dari millist

Sebuah Renungan Untuk Kita

ADA KALA TIADA...

Kalimat tersebut diatas begitu melekat dan mengikat kuat didalam diri saya, gak tau knapa, hanya saja kalimat tersebut dapat menjadi "cakram" terhadap kesombongan dan keangkuhan saya.

Terima kasih mas Ahmad ada ceritanya, semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari true story tsb.

Kadang kita merasakan arti kehadiran seseorang ketika orang tersebut sudah tidak disamping kita. Hfff,... mungkin itulah makna hidup kita sebagai manusia yang tidak bisa terlepas sebagai mahluk sosial yang dituntut untuk bersosialisasi dan berkomunikasi dengan banyak orang.

Apakah...
Kita harus merasakan sakit terlebih dahulu untuk bisa merasakan nikmatnya hidup sehat?
Kita harus terpuruk lebih dahuku untuk bisa bangkit dan berdiri?
Kita harus berpisah dahulu untuk bisa merasakan arti kehadiran seseorang?

Kadang sifat ego kita mengalahkan sikap rasional kita, sesungguhnya gak ada manusia yg bisa bertahan hidup apabila mengandalkan ego semata, You'll never walk alone (kalo boleh mengutip marsnya Anfield gank)

Gak kebayang rasanya apabila kita mesti menguras air mata utk bisa membujuknya kembali, padahal ketika beliau ada kita malah 'menelantarkannya'

Yupp, saatnya kita meluruskan niat, hati dan pandangan kita bahwa semua orang yang ada disekeliling kita (bahkan bukan hanya mahluk yang berjenis 'orang') bahwa mereka lah yang menjadikan kita seoperti saat ini, mereka lah yang mendukung & mendo'akan kita tanpa perlu diminta serta melalui perjuangan dan pengorbanan mereka pula lah kita bisa berinteraksi & berkomunikasi melalui milis ini. Ya, karena mereka (dan tentunya Anda juga) semuanya hingga Allah SWT menunjukan Kasih Sayang-Nya agar kita bisa berjalan beriringan langkah menuju arah yg lebih baik.

Mestinya, kita sudah mulai berani jujur dalam menyikapi hidup bahwa senyum mereka, tulus mereka serta pengorbanan mereka yang bisa mengantarkan kita untuk menjadi manusia yang seutuhnya, yaa... mereka semuanya sbg mahluk Allah SWT yg diciptakan untuk menyertai dan membimbing kita dalam perjalanan hidup di dunia ini, semoga kelak di akhirat nanti kita dalam berkumpul kembali di surga-Nya, Amien...


Cerita Ini Sedih Banget (hiiks...)
Saya teruskan ke Anda, sekadar berbagi 'kisah sejati'.

25 tahun yang lalu,
Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan. Tapi aku dan Kania harus
tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun wali
hakim. Dalam tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami selesai. Tanpa sungkem dan
tabur melati atau hidangan istimewa dan salam sejahtera dari kerabat. Tapi aku
masih sangat bersyukur karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi.
Umurku sudah menginjak seperempat abad dan Kania di bawahku. Cita-cita kami
sederhana, ingin hidup bahagia.

22 tahun yang lalu,

Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya makan keluargaku. Ya,
keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya momongan.
Seorang putri, kunamai ia Kamila. Aku berharap ia bisa menjadi perempuan sempurna,
maksudku kaya akan budi baik hingga dia tampak sempurna. Kulitnya masih merah,
mungkin karena ia baru berumur seminggu. Sayang, dia tak dijenguk kakek-neneknya dan
aku merasa prihatin. Aku harus bisa terima nasib kembali, orangtuaku dan orangtua
Kania tak mau menerima kami. Ya sudahlah. Aku tak berhak untuk memaksa dan aku
tidak membenci mereka. Aku hanya yakin, suatu saat nanti, mereka pasti akan
berubah.



19 tahun yang lalu,

Kamila ku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang berlari-lari, melompat-lompat
atau meloncat dari meja ke kursi lalu dari kursi ke lantai kemudian berteriak
"Horeee, Iya bisa terbang". Begitulah dia memanggil namanya sendiri, Iya. Kembang
senyumnya selalu merekah seperti mawar di pot halaman rumah. Dan Kania tak jarang
berteriak,"Iya sayaaang," jika sudah terdengar suara "Prang". Itu artinya, ada yang
pecah, bisa vas bunga, gelas, piring, atau meja kaca.
Terakhir cermin rias ibunya yang pecah. Waktu dia melompat dari tempat tidur ke
lantai, boneka kayu yang dipegangnya terpental. Dan dia cuma bilang "Kenapa semua
kaca di rumah ini selalu pecah, Ma?"

18 tahun yang lalu,

Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja pulang lebih awal dari pekerjaanku agar
bisa membeli hadiah dulu. Kemarin lalu dia merengek minta dibelikan bola. Kania tak
membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy apalagi ja di pemain bola seperti
yang sering diucapkannya.
"Nanti kalau sudah besar, Iya mau jadi pemain bola!" tapi aku tidak suka dia
menangis terus minta bola, makanya kubelikan ia sebuah bola.
Paling tidak aku bisa punya lawan main setiap sabtu sore. Dan seperti yang sudah
kuduga, dia bersorak kegirangan waktu kutunjukkan bola itu.
"Horee, Iya jadi pemain bola."

17 Tahun yang lalu

Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di jalan. Mainnya di rumah aja.
Coba kalau ia nurut, Bapak kan tidak akan seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana
Kania bisa tidak tahu Iya menyembunyikan bola di tas sekolahnya. Yang aku tahu,
hari itu hari sabtu dan aku akan menjemputnyanya dari sekolah. Kulihat anakku
sedang asyik menendang bola sepanjang jalan pulang dari sekolah dan ia semakin
ketengah jalan.
Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku mengalahkan kehati-hatianku dan
"Iyaaaa". Sebuah truk pasir telak menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya
berhenti di atas dua kakiku. Waktu aku sadar, dua kakiku sudah diamputasi. Ya
Tuhan, bagaimana ini. Bayang-bayang yang kelam menyelimuti pikiranku, tanpa kaki,
bagaimana aku bekerja sementara pekerjaanku mengantar barang dari perusahaan ke
rumah konsumen. Kulihat Kania menangis sedih, bibir cuma berkata "Coba kalau kamu
tak belikan ia bola!"

15 tahun yang lalu,



Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang pesangon habis untuk ke rumah
sakit dan uang tabungan menguap jadi asap dapur.
Kania mulai banyak mengeluh dan Iya mulai banyak dibentak. Aku hanya bisa
membelainya. Dan bilang kalau Mamanya sedang sakit kepala makanya cepat marah.
Perabotan rumah yang bisa dijual sudah habis. Dan aku tak bisa berkata apa-apa waktu
Kania ia hendak mencari ke luar negeri. Dia ingin penghasilan yang lebih besar
untuk mencukupi kebutuhan Kamila. Diizinkan atau tidak diizinkan dia a kan tetap
pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya dia memang pergi ke Malaysia .

13 tahun yang lalu,

Setahun sejak kepergian Kania, keuangan rumahku sedikit membaik tapi itu hanya
setahun. Setelah itu tak terdengar kabar lagi. Aku harus mempersiapkan uang untuk
Kamila masuk SMP. Anakku memang pintar dia loncat satu tahun di SD-nya. Dengan
segala keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa melanjutkan sekolah. aku bekerja
serabutan, mengerjakan pekerjaan yang bisa kukerjakan dengan dua tanganku. Aku
miris, menghadapi kenyataan. Menyaksikan anakku yang tumbuh remaja dan aku tahu dia
ingin menikmati dunianya. Tapi keadaanku mengurungnya dalam segala kekurangan.
Tapi aku harus kuat. Aku harus tabah untuk mengajari Kamila hidup tegar.

10 tahun yang lalu,

Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku. Dan Kamila hanya sanggup
berlari ke dalam rumah lalu sembunyi di dalam kamar. Dia sering jadi bulan-bulanan
hinaan teman sebayanya. Anakku cantik, seperti ibunya. "Biar cantik kalo kere ya
kelaut aje." Mungkin itu kata-kata yang sering kudengar. Tapi anakku memang sabar
dia tidak marah walau tak urung menangis juga. "Sabar ya, Nak!" hiburku. "Pak, Iya
pake jilbab aja ya, biar tidak diganggu!" pintanya padaku. Dan aku menangis.
Anakku maafkan bapakmu, hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam hatiku.
Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku,
ternyata kamu sudah semakin dewasa. Dia selalu tersenyum padaku. Dia tidak pernah
menunjukkan kekecewaannya padaku karena sekolahnya hanya terlambat di bangku SMP.

7 tahun yang lalu,

Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku, kembali menemui pikiranku.
Sudah bertahun-tahun tak kudengar kabarnya. Aku tak mungkin bohong pada diriku
sendiri, jika aku masih menyimpan rindu untuknya. Dan itu pula yang mem buat aku
takut. Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi TKI ke Malaysia . Sulit baginya
mencari pekerjaan di sini yang cuma lulusan SMP. Haruskah aku melepasnya karena
alasan ekonomi. Dia bilang aku sudah tua, tenagaku habis dan dia ingin agar aku
beristirahat. Dia berjanji akan rajin mengirimi aku uang dan menabung untuk modal.
Setelah itu dia akan pulang,
menemaniku kembali dan membuka usaha kecil-kecilan. Seperti waktu lalu, kali ini
pun aku tak kuasa untuk menghalanginya. Aku hanya berdoa agar Kamilaku baik-baik
saja.

4 tahun lalu,

Kamila tak pernah telat mengirimi aku uang. Hampir tiga tahun dia di sana . Dia
bekerja sebagai seorang pelayan di rumah seorang nyonya.
Tapi Kamila tidak suka dengan laki-laki yang disebutnya datuk.
Matanya tak pernah siratkan sinar baik. Dia juga dikenal suka perempuan. Dan
nyonya itu adalah istri mudanya yang keempat. Dia bilang dia sudah ingin pulang.
Karena akhir-akhir ini dia sering diganggu. Lebaran tahun ini dia akan berhenti
bekerja. Itu yang kubaca dari suratnya. Aku senang mengetahui itu dan selalu
menunggu hingga masa itu tiba.
Kamila bilang, aku jangan pernah lupa salat dan kalau kondisiku sedang baik usahakan
untuk salat tahajjud. Tak perlu memaksakan untuk puasa sunnah yang pasti setiap
bulan Ramadhan aku harus berusaha sebisa mungkin untuk kuat hingga beduk manghrib
berbunyi. Kini anakku lebih pandai menasihati daripada aku. Dan aku bangga.

3 tahun 6 bulan yang lalu,

Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian pemerintahan Malaysia , kabarnya
anakku ditahan. Dan dia diancam hukuman mati, karena dia terbukti membunuh suami
majikannya. Sesak dadaku mendapat kabar ini.
Aku menangis, aku tak percaya. Kamilaku yang lemah lembut tak mungkin membunuh.
Lagipula kenapa dia harus membunuh. Aku meminta bantuan hukum dari Indonesia untuk
menyelamatkan anakku dari maut. Hampir setahun aku gelisah menunggu kasus anakku
selesai. Tenaga tuaku terkuras dan airmataku habis. Aku hanya bisa memohon agar
anakku tidak dihukum mati andai dia memang bersalah.

2 tahun 6 bulan yang lalu,

Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti bersalah. Dan dia
harus menjalani hukuman gantung sebagai balasannya. Aku tidak bisa
apa-apa selain menangis sejadinya. Andai aku tak izinkan dia pergi
apakah nasibnya tak akan seburuk ini? Andai aku tak belikan ia bola
apakah keadaanku pasti lebih baik? Aku kini benar-benar sendiri.
wahai Allah kuatkan aku. Atas permintaan anakku aku dijemput terbang ke Malaysia .
Anakku ingin aku ada di sisinya di saat terakhirnya. Lihatlah, dia
kurus sekali. Dua matanya sembab dan bengkak. Ingin rasanya aku berlari tapi apa
daya kakiku tak ada. Aku masuk ke dalam ruangan pertemuan itu, dia berhambur ke
arahku, memelukku erat, seakan tak ingin melepaskan aku.
"Bapak, Iya Takut!" aku memeluknya lebih erat lagi. Andai bisa
ditukar, aku ingin menggantikannya. "Kenapa, Ya, kenapa kamu membunuhnya sayang?"
"Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak. Iya tidak mau. Iya
dipukulnya. Iya takut, Iya dorong dan dia jatuh dari jendela kamar. Dan dia mati.
Iya tidak salah kan , Pak!" Aku perih mendengar itu. Aku iba dengan nasib anakku.
Masa mudanya hilang begitu saja. Tapi aku bisa apa, istri keempat lelaki tua itu
menuntut agar anakku dihukum mati. Dia kaya dan lelaki itu juga orang terhormat.
Aku sudah berusaha untuk memohon keringanan bagi anakku, tapi menemuiku pun ia tidak
mau. Sia-sia aku tinggal di Malaysia selama enam bulan untuk memohon hukuman pada
wanita itu.

2 tahun yang lalu,

Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan wanita itu akan hadir melihatnya. Aku
mendengar dari petugas jika dia sudah datang dan ada di belakangku. Tapi aku tak
ingin melihatnya. Aku melihat isyarat tangan dari hakim di sana . Petugas itu
membuka papan yang diinjak anakku. Dan 'blass" Kamilaku kini tergantung. Aku tak
bisa lagi menangis.
Setelah yakin sudah mati, jenazah anakku diturunkan mereka, aku mendengar langkah
kaki menuju jenazah anakku. Dia menyibak kain penutupnya dan tersenyum sinis. Aku
mendongakkan kepalaku, dan dengan mataku yang samar oleh air mata aku melihat garis
wajah yang kukenal. "Kania?"
"Mas Har, kau . !"
"Kau ... kau bunuh anakmu sendiri, Kania!"
"Iya? Dia..dia . Iya?" serunya getir menunjuk jenazah anakku.
"Ya, dia Iya kita. Iya yang ingin jadi pemain bola jika sudah besar."
"Tidak ... tidaaak ... " Kania berlari ke arah jenazah anakku. Diguncang tubuh kaku
itu sambil menjerit histeris. Seorang petugas menghampiri Kania dan memberikan
secarik kertas yang tergenggam di tangannya waktu dia diturunkan dari tiang
gantungan. Bunyinya "Terima kasih Mama."
Aku baru sadar, kalau dari dulu Kamila sudah tahu wanita itu ibunya.

Setahun lalu,

Sejak saat itu istriku gila. Tapi apakah dia masih istriku. Yang aku tahu, aku
belum pernah menceraikannya. Terakhir kudengar kabarnya dia mati bunuh diri. Dia
ingin dikuburkan di samping kuburan anakku, Kamila. Kata pembantu yang mengantarkan
jenazahnya padaku, dia sering berteriak, "Iya sayaaang, apalagi yang pecah, Nak."
Kamu tahu Kania, kali ini yang pecah adalah hatiku. Mungkin orang tua kita memang
benar, tak seharusnya kita menikah. Agar tak ada kesengsaraan untuk Kamila anak
kita.
Benarkah begitu Iya sayang?

Kiriman dari seorang teman.